Tampilkan postingan dengan label ships and sea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ships and sea. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2010

Ini Dia Kapal Terbesar di Dunia!


Inilah kapal pesiar terbesar di dunia yang akhirnya kelar dikerjakan, dan Jumat (Sabtu, 31/10 WIB) te­ngah meluncur ke pelabuhan markasnya di Florida.

Kapal bernama Oasis of the Seas ini akan menemui penonton pertamanya, Sabtu (Minggu 1/11 WIB), ketika keluar dari Laut Baltik dan harus menyelinap di bawah Great Belt Bridge, yang hanya satu kaki lebih tinggi dari kapal tersebut–meski setelah cerobong asap teleskopik telah direndahkan.

Begitu pulang, extravaganza mengapung bernilai US$ 1,5 miliar itu akan lebih menghadapi tantangan, yakni perekonomian Amerika Serikat (AS) yang merosot, meningkatkan pertanyaan ­selera konsumen atas pesiar mewah, dan dikritik sebagai pelayaran raksasa yang merusak lingkungan dan menghilangkan pengalaman berlayar.
Oasis of the Seas–yang nyaris 40 persen lebih besar ketimbang kapal industri terbesar–dikerjakan bertahun-tahun sebelum pelambatan ekonomi menyebabkan perusahaan kapal pesiar putus asa banting harga untuk mengisi kapalnya.

“Jelas kami tidak ingin atau mengantisipasi kapal ini lahir di masa pelambatan ekonomi paling signifikan sejak Depresi Besar. Meski de­ngan situasi seperti ini, kami bergairah terhadapnya,” kata Presiden dan CEO Royal Caribbean International, Adam Goldstein kepada Associated Press dalam wawancara awal bulan ini.

Oasis of the Seas memiliki 2.700 kabin serta dapat menampung 6.300 penumpang dan 2.100 awak. Kapal superbesar ini memiliki ber­bagai “lingkungan”—taman, lapangan, dan arena dengan tema-tema khusus. Salah satu­nya memiliki lingkungan tropis, termasuk pohon palem dan tumbuhan merambat yang merupakan sebagian dari sejumlah 12.000 tanaman di atas kapal. Tanaman itu akan ditanam setelah kapal tiba di Fort Lauderdale.

Di bagian buritan terdapat teater terbuka dengan 750 tempat duduk–bergaya amphithea­ter Yunani kuno—berfungsi ganda sebagai kolam renang di siang hari dan teater menghadap samudra di malam hari. Kolam renangnya memiliki menara dengan dua papan ayun untuk menyelam dari ke­tinggian 33 kaki. Masih ada teater tertutup berkapasitas 1.300 tamu.

Akomodasi mencakup kabin bertingkat dengan jendela dari lantai ke atap dan ada suite mewah 1.600 kaki persegi dengan balkon berpemandang­an laut atau ke geladak kapal untuk jalan-jalan.

Salah satu “lingkungan” dinamakan Central Park, lapangan yang memiliki butik, resto, dan bar yang dapat ber­gerak naik turun tiga dek, memungkinkan penumpang naik-turun ke lantai berbeda.

Kapal ini punya empat kolam renang, lapangan voli, lapangan basket, dan zona kaum muda dengan taman bertema dan tempat anak-anak.
Harga tiket Oasis lebih tinggi, berkisar US$ 1.299-4.829, dibanding US$ 509-1.299 kapal pesiar terkenal Freedom of the Seas. (sinarharapan/pit)

Kapal Laut Terbesar Di Dunia






Blog-thelounge.blogspot.com-Kapal kapal laut terbesar...mungkin terlintas di pikiran anda kapal laut terbesar ialah R.M.S Titanic,ternyata masih ada yang lebih besar lho.Inilah 6 Kapal Terbesar Di Dunia

1. PIERRE GUILLAUMAT

Kapal Terbesar Yang Pernah Dibuat adalah 4 supertanker kelas Batillus buatan Perancis pada akhir 70-an, berbobot mati 555.000 ton dan panjang 414 meter. Diluncurkan dari galangan kapal Chantiers de l’Atlantique di Saint Nazaire.

Satu-satunya kapal yang lebih besar adalah si jumbo “Knock Nevis”; ex “Jahre Viking”, ex “Seawise Giant”, ex “Porthos”, di tahun 1981. Tapi, supertanker dari kelas Batillus mempunyai tonase kotor yang lebih besar, sehingga bisa dianggap lebih besar dari Knock Nevis.

Keempat kapal dari kelas Batillus itu adalah sebagai berikut:
* Batillus, buatan 1976, diistirahatkan 1985.
* Bellamya, buatan 1976, diistirahatkan 1986.
* Pierre Guillaumat, buatan 1977, diistirahatkan 1983.
* Prairial, buatan 1979, (juga dikenal dengan sebutan “Hellas Fos” dan “Sea
Giant”) – gantung sepatu tahun 2003

Kapal Laut Terbesar Di Dunia


2.Super Tanker Knock Nevis

Inilah raja dari segala supertanker, dan mungkin jika dilihat dari dimensinya merupakan kapal terbesar yang pernah dibuat . Yang jelas untuk yang masih beroperasi, memang kapal inilah yang terbesar. Cerita perjalanan karirnya-pun cukup menarik.

Pertama-tama kapal ini punya banyak nama sebutan:
- “Seawise Giant”
- “Porthos”
- “Happy Giant”
- “Jahre Viking”
- “Knock Nevis”

Knock Nevis, or T.T. Jahre Viking adalah kapal terbesar yang pernah dibuat. Ini adalah super tanker dengan kelas ULCC (Ultra Large Crude Carrier), kapal ini berukuran panjang 485 meter (1503 feet), apabila kapal ini berdiri maka kapal ini akan lebih tinggi dari Petronas Twin Tower .

Jahre Viking mempunyai kedalaman sarat muatan penuh 25 meter. Karena ukurannya yang besar ini, Jahre Viking tidak bisa melewati terusan Panama maupun terusan Suez bahkan Selat Inggris-pun tidak bisa dilewati. Cargo capacity (deadweight tonnage) dari Jahre Viking adalah 564,763 ton, Jahre Viking dapat mengangkut sekitar 650,000 m³ (4.1 juta barrel) minyak mentah (crude oil) sekali berlayar.

Jahre Viking pada mulanya dibangun dengan displacement of 480,000 tons oleh Sumitomo Heavy Industries Yard di Jepang pada 1975 dengan nomor lambung 1016, yang kemudian diberi nama Seawise Giant.Sebagai gambaran, lihat perbandingan skalanya dengan menara Eiffel dan Empire State Building:

Kapal Laut Terbesar Di Dunia

3.Cargo Ship Emma Maersk

Salah satu Container Ship terbesar di dunia tentu saja dimiliki oleh perusahan pemilik Container Ship terbesar MAERSK-Group. Kapal ini diberi nama EMMA MAERSK, merupakan Container Ship terbesar yang sudah dioperasikan.

Kapal ini mampu memuat hampir 11,000 TEU’s (Twenty feet Equivalent Unit), tidak kurang dari 1,400 container lebih banyak dari pada kemampuan muat kapal lain. Itu menurut batas stabilitas kapal sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan, dengan asumsi berat per container 14 ton. Tetapi pada dasarnya kapal ini didesain mampu memuat 14,500 TEU’s.

Kapal ini dibuat oleh Odense Steel Shipyard Denmark pada 2006. Ada fakta yang menarik ketika kapal ini sedang dibangun, dimana terjadi kebakaran besar di dek akomodasi dan bridge deck yang menyebabkan banyak kerusakan. Tetapi semuanya dapat diperbaiki dengan cepat dan kapal diselesaikan tepat waktu. Kapal ini diberi nama EMMA MAERSK, yang merupakan nama dari istri Maersk Mc-Kinney pendiri MAERSK-Group


Kapal Laut Terbesar Di Dunia

4.Cruise Ship Queen Mary II

Kapal Pesiar termewah dan terbesar yang beroperasi untuk saat ini adalah Quenn Mary 2. Queen Mary 2 beroperasi dibawah bendera Cunard Line, yang merupakan pemilik kapal pesiar terbesar sebelumnya The Queen Mary. Queen Mary 2 ter-registrasi di Suthampton, United Kingdom.

Pembangunan Queen Mary 2 menelan biaya sekitar 900 juta US dollars, itu merupakan salah satu kapal termahal yang pernah dibuat. Tetapi biaya pembangunan yang segitu besar sebanding dengan kemewahan yang ditawarkan, Queen Mary 2 adalah “The most luxurious pearl in the crown of cruise liners”.

Eksterior dari Queen Mary 2 ditangani oleh arsitek handal Stephen Payne. Ukuran yang sangat besar menjadi halangan terbesar dalam menciptakan kenyamanan bagi penumpang. Sebagai contoh, chimney kapal harus di-desain agar gas buang yang dihasilkan mesin kapal tidak menimbulkan polusi di sekitar upper deck yang merupakan public area paling ramai di kapal itu.

Kapal Laut Terbesar Di Dunia


5.Berge Stahl

Berge Stahl terdaftar di Stavanger, Norwegia. kapal ini sebelumnya terdaftar di Monrovia, Liberia. kapal ini dibangun pada tahun 1986 oleh Hyundai Heavy Industries. Kapal ini sekarang dimiliki perusahaan Singapura BW Group.karena ukurannya yang sangat besar, Kapal ini hanya dapat merapat penuh di dua pelabuhan didunia yaitu, Terminal MarĂ­timo de Ponta da Madeira di Brazil dan Europoort dekat Rotterdam di Belanda.

Kapal Laut Terbesar Di Dunia


6. Carrier, USS Enterprise

Kapal perang terbesar, tentu saja adalah kapal induk yang dimiliki oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.Dari sekian banyak armada perang US Navy, yang terbesar adalah kapal induk dari kelas Nimitz. Supercarrier kelas Nimitz ini dilengkapi dengan masing-masing 2 reaktor nuklir buatan Westinghouse yang menggerakkan 4 turbin uap yang terhubung dengan 4 poros propeller.

Mesin turbinnya menghasilkan 260,000 tenaga kuda yang dapat menggerakkan kapal dengan kecepatan 30+ knots. Dengan reaktor nuklir ini artinya kapal ini tidak perlu “ngisi Pertamax” selama 20 tahun. Dengan sistem logistik yang dimiliki oleh US Navy memungkinkan kapal ini untuk berlayar mengelilingi dunia non stop tanpa perlu berhenti dan bersandar di pelabuhan untuk mengisi ulang logistik.

Dengan ukuran panjang 340 meter, beam 78 meter dan draft 12 meter, Nimitz-class supercarrier mempunyai displacement 101,196 ton. Total kru onboard adalah 5,700 orang, terdiri dari 3,200 pelaut dan 2,500 wing udara. Total pesawat yang dapat dibawa adalah 85 unit yang merupakan kombinasi dari F-18E/F Super Hornet, EA-6B Prowler, E-2 Hawkeye, C-2 Greyhound, SH/HH-60 Seahawkdan S-3 Viking

Kapal Laut Terbesar Di Dunia

Sabtu, 27 Februari 2010

Sejarah Armada Penjaga Laut dan Pantai Indonesia (Indonesian Sea and Coast Guard Base)




Keberadaan KPLP di Persada Ibu Pertiwi jelas landasan hukumnya, yakni Peraturan Pelayaran (Scheepvaart Reglement) LN. 1882 No. 115 junto LN. 1911 No.399 (kepolisian di laut). UU Pelayaran (Scheepvaart Ordonantie) 1936 (Stb. 1936 No. 700), Peraturan Pelayaran 1936 pasal 4, dan Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim 1939 pasal 13.

< tahun 1942 – Sebelum Perang Dunia ke-Dua,
Organisasi KPLP diatur dalam Dienst van Scheepvaart (Dinas Pelayaran) dan Gouvernment Marine (Armada Pemerintah).

Tahun 1942 s/d 1949 - Setelah Perang Dunia ke-Dua,
Ada dua organisasi yang mengatur dan menyelenggarakan tugas dan fungsinya,

1. Pertama
- Tahun 1945, Jawatan Urusan Laut RI di Yogya, kemudian
- Tahun 1947, menjadi Jawatan Pelayaran RI.

2. Kedua
- Tahun 1947, Dienst Van Scheepvaart Hindia-Belanda yang kemudian ditingkatkan menjadi Departemen Van Scheepvaart, yang tadinya tugas dan fungsi pada butir 3 dilaksanakan oleh kapal-kapal Government Marine, selanjutnya oleh Zee en Kustbewaking Dienst dengan kapal-kapal dari Departemen Van Scheepvaart dan Departemen Van Marine.

Tahun 1950
Setelah pengakuan kedaulatan tgl. 27 Desember 1949 berdasarkan Pengumuman Menteri Perhubungan, Tenaga dan Pekerjaan Umum No. 3 Tgl. 9 juni 1950, ke-dua organisasi tadi disatukan menjadi satu departemen yaitu Departemen Pelayaran dibawah Kementrian Perhubungan, Tenaga dan Pekerjaan Umum. Zee en Kustbewaking Dienst menjadi DINAS PENJAGA LAUT DAN PANTAI (DPLP).

Diserahkan kepada Angkatan Laut
Dalam keadaan Darurat Perang (Perjuangan Fisik) berdasarkan Keppres No.39 tanggal. 31 Januari 1950, Penjaga Laut dan Pantai diserahkan kepada Angkatan Laut RI.

Tahun 1952
Pada medio 1952 diserahkan kembali kepada Jawatan Pelayaran yang diawali dengan penyerahan Dinas Patroli di Tanjung Uban, P. Bintan, Riau Kepulauan. Dasar Pertimbangannya sehubungan dengan peng-khususan tugas ABK dibidang pertahanan.

Tahun 1964
PLP (Penjaga Laut dan Pantai) menjadi bagian Operasi Polisionil di Laut (OPDIL) dibawah Direktorat Operasi Kementrian Perhubungan Laut.

Tahun 1965
Berubah lagi menjadi Asisten Operasi Khusus Angkutan Pemerintah berdasarkan SK. Menhubla No. Kab.4/9/16 tanggal 6 Mei1965.

Tahun 1966
berdasarkan SK. Menhub No.M.14/3/14 Phb tanggal 20 Juni 1966 menjadi Biro Keselamatan Pelayaran (BKP) dengan tugas menyelenggarakan Kepolisian Khusus di Laut dan SAR.
Berdasarkan SK. Menteri Maritim: No. Kab.4/3/14 tanggal 13 Desember 1966 BKP digabung kedalam Komando Satuan Operasi (KASOTOP) yang kemudian menjadi Direktorat Pelayaran dengan tetap menyelenggarakan tugas-tugas Kepolisian khusus di perairan / SAR.

Tahun 1968
Dengan bergantinya Departemen Maritim menjadi Departemen Perhubungan, berdasarkan SK. Menhub No. M.14/9/7 Phb tanggal 24 Agustus 1968, Tugas-tugas Khusus SAR dimasukkan ke dalam Direktorat Navigasi, dan oleh Menhub diubah kembali namanya menjadi Dinas Penjaga Laut dan Pantai (DPLP) dengan tugas menyelenggarakan Kepolisian Khusus di Laut dan Keamanan Khusus Pelabuhan.

Tahun 1970
Berdasarkan SK Dirjen Hubla No.Kab.4/3/4 tanggal 11 April 1970 DPLP menjadi KOPLP (Komando Operasi Penjaga Laut dan Pantai).

Tahun 1973
Berdasarkan SK Menhub No.KM.14/U/plib-73 tanggal 30 Januari 1973 KOPLP mejadi KPLP (Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai) setingkat Direktorat.

Demikian sumber Buana. Sabtu 3 Mei 1986--(Buana/W-24)

Kamis, 25 Februari 2010

Bukti-Bukti Mutakhir Tentang Kehebatan Pelaut Nenek Moyang Indonesia jauh Sebelum Cheng Ho dan Columbus [Jejak Warisan Pelaut Nusantara di Afrika]


Ceng Ho dan Colombus adalah dua pelaut ulung yang tersohor di penjuru dunia. Mereka terkenal sebagai figur tangguh yang berani menantang ganasnya samudra dengan perahu sejarahnya. Tapi tahukah anda, ternyata kepiawaian mereka jauh ketinggalan dari pelaut Nusantara. Mungkin anda tidak percaya begitu saja. Tapi, demi membuktikan kebenaran itulah Robert dick-read, peneliti asal Inggris bersusah payah menyusun buku ini.

Dengan berdasar pada sumber sejarah yang berlimpah, Dick bercerita tentang pelaut-pelaut nusantara yang sudah menjejakkan kaki di Afrika sejak abad ke-5 M. Jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika dan jauh sebelum bangsa Arab berlayar ke Zanzibar. Ceng Ho apalagi, pelaut China yang pernah mengadakan muhibah ke Semarang pada abad ke-14 M ini jelas ketinggalan dari moyang kita.

Yang menarik, penelitian Dick-read tentang pelaut nusantara ini seperti kebetulan. Awalnya, ia datang ke mozambik pada 1957 untuk meneliti masa lalu Afrika. Disana. untuk pertama kalinya mendengar bagaimana masyarakat Madagaskar fasih berbicara dengan bahasa Austronesia laiknya pemukim di wilayah pasifik. Ia juga tertarik dengan perompak Madagaskar yang menggunakan Kano (perahu yang mempunyai penyeimbang di kanan-kiri) yang mirip perahu khas Asia timur. Ketertarikannya memuncak setelah ia banyak menghadiri seminar tentang masa lalu Afrika, yang menyiratkan adanya banyak hubungan antara Nusantara dan sejarah Afrika.

Dalam penelusurannya, Dick-read menemukan bukti-bukti mutakhir bahwa pelaut Nusantara telah menaklukkan samudra hindia dan berlayar sampai Afrika Sebelum bangsa Eropa, Arab, dan Cina memulai penjelajahan bahari mereka.

Diantara bukti tersebut adalah banyaknya kesamaan alat-alat musik, teknologi perahu, bahan makanan, budaya dan bahasa bangsa Zanj (ras Afro-Indonesia) dengan yang ada di Nusantara. Di sana, ditemukan sebuah alat musik sejenis Xilophon atau yang kita kenal sebagai Gambang dan beberapa jenis alat musik dari bambu yang merupakan alat musik khas Nusantara. Ada juga kesamaan pada seni pahat patung milik suku Ife, Nigeria dengan patung dan relief perahu yang ada di Borobudur.

Beberapa tanaman khas Indonesia yang juga tak luput di hijrahkan ke sana, semisal pisang raja, ubi jalar, keladi dan jagung. Menurut penelitian George Murdock, profesor berkebangsaan Amerika pada 1959, tanaman-tanaman itu dibawa orang-orang Indonesia saat melakukan perjalan ke Madagaskar (h.237).

Bukan itu saja, di dalam buku ini anda akan menemukan berbagai hipotesa mengejutkan mengenai kehebatan pelaut Nusantara. Diantaranya, rentang antara abad ke-5 dan ke-7 M, kapal-kapal Nusantara banyak mendominasi pelayaran dagang di Asia. Pada waktu itu perdagangan bangsa Cina banyak bergantung pada jasa para pelaut Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa perkapalan Cina ternyata banyak mengadopsi teknologi dari Indonesia. Bahkan kapal Jung yang banyak dipakai orang Cina ternyata dipelajari dari pelaut Nusantara.

Di afrika juga ada masyarakat yang disebut Zanj yang mendominasi pantai timur Afrika hampir sepanjang millennium pertama masehi. Lalu siapakah Zanj, yang namanya merupakan asal dari nama bangsa Azania, Zanzibar dan Tanzania? Tak banyak diketahui. Tapi ada petunjuk yang mengarahkan kesamaan Zanj Afrika dengan Zanaj atau Zabag di Sumatera.

Dalam hal ini, Dick mengajukan dugaan kuat keterikatan Zanj, Swarnadwipa dan Sumatera. Swarnadwipa yang berarti Pulau emas merupakan nama lain Sumatera. Hal ini dapat dilihat dalam legenda Hindhu Nusantara. Dick menduga, banyaknya emas di Sumatera ini dibawa oleh Zanj dan pelaut nusantara dari Zimbabwe, Afrika. Karena, Dick juga menemukan bukti yang menyatakan tambang-tambang emas di Zimbabwe mulanya dirintis oleh pelaut Nusantara yang datang ke sana. Sebagian tak kembali dan membentuk ras Afro-Indonesia. Mungkin ras inilah yang disebut Zanj (halaman 113).

Terlepas dari percaya atau tidak, nyatanya penulis telah menjabarkan banyak bukti yang menceritakan kehebatan pelaut Nusantara. Hal ini tentu menjadi kebangaan tersendiri bagi kita sebagai keturunannya.

Tapi, jangan berhenti sampai kebanggaan itu saja. Kita juga harus malu dan berbenah diri jika faktanya dunia kemaritiman kita saat ini jauh dari kehebatan mereka. Yang kita lihat sekarang, ikan kita banyak dicuri, banyak penyelundupan melalui laut, sedang armada dan peralatan kelautan kita tidak mencukupi untuk menjaga keamanan. Yang terparah, kredibilitas bangsa pun ikut kalah, ini bisa kita cermati dari kasus ambalat dan ekstradisi Indonesia-Singapura yang merugikan kita.

Akhirnya, Adalah tugas kita semua sebagai bangsa untuk kembali menegakkan kejayaan kemaritiman yang pernah diraih oleh para moyang kita. Agar kita bisa berdaulat di lautan sendiri.

Tradisi besar maritim Nusantara

Jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa di perairan Nusantara pada paruh pertama abad XVI, pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut dan tampil sebagai penjelajah samudra. Kronik China serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia menorehkan catatan agung tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia.

Serangkaian penelitian mutakhir yang dilakukan Robert Dick-Read (Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika, 2008) bahkan memperlihatkan fenomena mengagumkan. Afrikanis dari London University ini, antara lain, menyoroti bagaimana peran pelaut-pelaut nomaden dari wilayah berbahasa Austronesia, yang kini bernama Indonesia, meninggalkan jejak peradaban yang cukup signifikan di sejumlah tempat di Afrika. Buku ini bercerita tentang pelaut-pelaut Nusantara yang berlayar sampai ke Afrika pada masa lampau, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika selain gurun Saharanya, dan jauh sebelum bangsa Arab dan Shirazi menemukan kota kota-kota eksotis di pantai timur Afrika seperti Kilwa,Lamu dan Zanzibar.

Pendek kata, penelitian dalam buku ini mengungkap bukti-bukti mutakhir bahwa para pelaut Nusantara telah menaklukkan samudra jauh sebelum bangsa eropa,Arab dan China memulai zaman penjelajajahn bahari mereka. Sejak abad ke-5 M,para pelaut Nusantara telah mampu menyeberangi Samudera Hindia hingga mencapai Afrika.

Para petualang Nusantara ini bukan hanya singgah di Afrika. Mereka juga meninggalkan banyak jejak di kebudayaan di seluruh Afrika. Mereka memperkenalkan jenis-jenis tanaman baru, teknologi, musik, dan seni yang pengaruhnya masih bisa ditemukan dalam kebudayaan Afrika sekarang.

Dalam buku ini, ada beberapa hipotesis yang cukup mengejutkan :

- antara abad ke-5 dan ke-7, kapal-kapal Nusantara mendominasi pelayaran dagang di Asia

- pada abad-abad itu, perdagangan bansga China banyak bergantung pada jasa para
pelaut Nusantara

- sebagian teknologi kapal jung dipelajari bangsa China dari pelaut-pelaut Nusantara,
bukan sebaliknya

- dari manakah asal emas berlimpah yang membuat Sumatera dijuluki Swarnadwipa
(Pulau Emas) ? Mungkinakah dari Zimbabwe

- Mungkinkah tambang-tambang emas kuno di Zimbabwe dibangun oleh para perantau Nusantara ?

Dan masih banyak lagi data sejarah yang dipaparkan buku ini, yang pasti akan banyak mengubah pandangan kitas tentang kehebatan peradaban Nusantara pada masa kuno. Sebuah bacaan yang dapat menambah wawasan kita mengenai kehebatan nenek moyang bangsa ini.

Para penjelajah laut dari Nusantara diperkirakan sudah menjejakkan kaki mereka di Benua Afrika melalui Madagaskar sejak masa-masa awal tarikh Masehi. Jauh lebih awal daripada bangsa Eropa mengenal Afrika selain Gurun Sahara-nya dan jauh sebelum bangsa Arab dan Zhirazi dengan perahu dhow mereka menemukan kota-kota eksotis di Afrika, seperti Kilwa, Lamu, dan Zanzibar.

”Meskipun (para pelaut Nusantara) tidak meninggalkan catatan dan bukti-bukti konkret mengenai perjalanan mereka, sisa-sisa peninggalan mereka di Afrika jauh lebih banyak daripada yang diketahui secara umum,” tulis Dick-Read pada pengantar buku terbarunya.

Catatan hasil penelitian Dick-Read kian memperkaya khazanah literatur tentang peran pelaut-pelaut Indonesia pada masa lampau. Bukti-bukti mutakhir tentang penjelajahan pelaut Indonesia pada abad ke-5 yang dibentangkan Dick-Read makin mempertegas pandangan selama ini bahwa sejak lebih dari 1.500 tahun lampau nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut sejati.

Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas.

Jung-jung China lebih banyak melayani angkutan sungai dan pantai.

Tentang hal ini, Oliver W Wolters (1967) mencatat bahwa dalam hal hubungan perdagangan melalui laut antara Indonesia dan China—juga antara China dan India Selatan serta Persia—pada abad V-VII, terdapat indikasi bahwa bangsa China hanya mengenal pengiriman barang oleh bangsa Indonesia.

I-Tsing, pengelana dari China yang banyak menyumbang informasi terkait masa sejarah awal Nusantara, secara eksplisit mengakui peran pelaut-pelaut Indonesia. Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 Masehi) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”.

Dengan kata lain, arus perdagangan barang dan jasa menjelang akhir milenium pertama di ”jalur sutra” melalui laut-meminjam istilah arkeolog Hasan Muarif Ambary (alm)-sangat bergantung pada peran pelaut-pelaut Indonesia. Tesis Dick-Read bahkan lebih jauh lagi, bahwa pada awal milenium pertama kapal-kapal Kun Lun (baca: Indonesia) sudah ikut terlibat dalam perdagangan di Mediterania.

Masyarakat bahari

Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 2), mengidentifikasikannya sebagai orang-orang laut, sedangkan Dick-Read merujuk ke sumber yang lebih spesifik: orang-orang Bajo atau Bajau. Mereka ini semula berdiam di kawasan Selat Melaka, terutama di sekitar Johor saat ini, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai penjuru Nusantara, dan pada sekitar abad XIV sebagian besar bermukim di wilayah timur Indonesia.

Peran yang dimainkan para pelaut Indonesia pada masa silam tersebut terus berlanjut hingga kedatangan orang-orang Eropa di Nusantara. Para penjelajah laut dan pengelana samudra inilah yang membentuk apa yang disebut Adrian B Lapian, ahli sejarah maritim pertama Indonesia, sebagai jaringan hubungan masyarakat bahari di Tanah Air.

Anthony Reid (Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, 2004) menyebut kelompok masyarakat berbahasa Austronesia ini sebagai perintis yang merajut kepulauan di Asia Tenggara ke dalam sistem perdagangan global.

Akan tetapi, pada abad XVIII masyarakat Nusantara dengan budaya maritimnya yang kental itu mengalami kemunduran. Monopoli perdagangan dan pelayaran yang diberlakukan pemerintahan kolonial Belanda, walau tidak mematikan, sangat membatasi ruang gerak kapal-kapal pelaut Indonesia.

Ironisnya, setelah 68 tahun Indonesia merdeka, setelah PBB mengakui Deklarasi Djoeanda (1957) bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, tradisi besar itu masih saja dilupakan.

Kini, kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat nelayan dijumpai di banyak tempat, sementara di sisi lain, kekayaan laut kita terus dikuras entah oleh siapa…

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/05/00153641/tradisi.besar.yang.dilupakan


Sebagai penduduk Indonesia sudah sepatutnya kita berbangga diri. Pasalnya, nenek moyang bangsa Indonesia ternyata adalah orang yang gemar berpetualang menjelajahi penjuru Bumi dengan menyeberangi samudra hingga mampu menyebarkan berbagai peninggalan yang masih dapat dijumpai hingga kini di berbagai tempat dataran benua Afrika.

Hal itu menjadi bukti bahwa jauh sebelum bangsa Eropa membanggakan diri karena mengklaim bahwa pelayarannya adalah yang terhebat di dunia karena berhasil melakukan perjalanan keliling samudra pada abad XVI, ternyata nenek moyang bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu melakukannya. Bahkan penjelajahan penduduk Indonesia dibarengi dengan fasilitas perahu dengan teknologi modern dan sarana pendukung yang serba canggih pada masa itu, hingga membuat perjalanan menyusuri ’dunia baru’ bukanlah sesuatu hal yang sulit dilakukan.

Sehingga dapat dikatakan jika pelayaran itu sangat heroik dan jauh di luar batas kemampuan berlayar bangsa mana pun di dunia pada era tersebut. Padahal itu dilakukan pelaut Nusantara seribu tahun lebih sebelum petualangan Columbus di era modern.

Penjelajahan Bahari akan mengajak pembaca untuk sejenak menikmati romantisme kejayaan bangsa Indonesia kuno. Buku ini merupakan karya ilmiah hasil penelitian Robert Dick-Read, seorang Afrikanis dari London University yang disusun berdasarkan sumber data melimpah dan dapat dipertanggungjawabkan, yang merupakan hasil dari penelitian seni dan budaya di banyak daerah yang ada peninggalan sejarah dari Nusantara. Karir dan reputasi penulis dipertaruhkan dalam isi buku ini, karena hasil intrepertasinya bisa mengundang berbagai pertanyaan dan kecaman dari ahli sejarah yang berbeda pandangan dengannya.

Dari berbagai sumber yang telah diteliti, penjelajah laut dari Nusantara menginjakkan kakinya pertama kali di benua Afrika melalui Madagaskar. Kedigdayaan pelaut Nusantara yang tercatat pertama kali dalam sejarah adalah masa ketika kerajaan Sriwijaya, yang ibu kotanya di Palembang, tepatnya di tepi sungai Musi, berhasil membangun angkatan laut kerajaan terkuat, besar dan tangguh, yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.

Memang sejarah modern mencatat bahwa pelayaran keliling lautan luas pertama kali dilakukan oleh armada Cheng Ho dari negeri Cina dan pelaut Eropa di zaman Columbus. Padahal fakta itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun tidak ada catatan otentik yang tersisa, namun dapat disebut bahwa pelaut Nusantara yang dipelopori armada laut Sriwijaya sudah terlebih dahulu berhasil mengarungi samudra.

Menurut Robert Dick-Read, bukti mutakhir bahwa para pelaut Nusantara telah menaklukkan samudra jauh sebelum bangsa Eropa, Arab, Cina, dan India memulai zaman penjelajahan bahari masih bisa ditelusuri buktinya. Karena sejak abad ke-5 masehi, para pelaut Nusantara sudah mampu menyeberangi Samudra Hindia hingga mencapai benua Afrika dan masih meninggalkan jejak nyata hingga sekarang.

Sebuah inskripsi kuno pada abad VII masehi yang ditemukan di Palembang menyebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya adalah kelompok pertama pelaut Nusantara yang berhasil menyebarkan armadanya hingga daratan Afrika. Pasalnya, pada zaman keemasan Sriwijaya, saat itu penguasa kerajaan membutuhkan emas dalam jumlah besar dan mereka mendatangkan pasokan emas itu dari pertambangan emas kuno yang ada di Zimbabwe. Ditambah bukti adanya banyak penduduk Madagaskar pada masa lalu yang melakukan hubungan dengan penghuni Sumatra Selatan semakin menguatkan asumsi bahwa angkatan laut kerajaan Sriwijaya telah berhasil menduduki tanah yang ditemukannya itu.

Para petualang Nusantara ini tidak sekedar hanya singgah di dataran Afrika, melainkan juga menetap dan meninggalkan banyak kebudayaan di seluruh dataran yang berhasil disinggahinya. Banyaknya jejak pelaut Nusantara tersebut meninggalkan kebudayaan diantaranya dengan ditemukannya teknologi, tanaman baru, musik, dan seni yang pengaruhnya masih bisa dijumpai dalam kehidupan masyarakat Afrika sekarang.

Misalnya dalam kehidupan masyarakat Zanj yang menghuni daerah Madagaskar bagian utara, mereka menangkap buruan dengan menggunakan keranjang yang sebenarnya mirip dengan teknik menangkap ikan di semenanjung Malaya dan Indonesia. Tidak banyak yang diketahui untuk mengungkap asal usul ras tersebut, namun ada satu petunjuk yang akan menggiring kita untuk menemukan jawabannya, yaitu Zanj adalah ras keturunan Afro-Indonesia yang menetap di Afrika Timur.

Bahkan, tanaman ubi jalar, pisang raja, dan beragam jenis pisang yang hidup di daratan Afrika Timur juga merupakan tanaman yang dibawa oleh penjelajah Indonesia yang melakukan perjalanan ke Madagaskar. Dan pada waktu yang sama tanaman itu menyebar sampai Afrika Barat karena dibawa melalui perjalanan darat melalui Somalia, Ethiopia Selatan, dan Sudan (hal. 237).

Fakta di atas juga digunakan Alexander Adelaar (pakar lainnya) ketika mempelajari asal-usul bahasa Madagaskar. Dari hasil analisisnya, dia bahkan berani membeberkan hipotesis bahwa bahasa penduduk Madagskar (Malagasi) dan Melayu sangat mirip. Tidak hanya itu, kekuatan unsur genetik dan budaya Afrika di Madagaskar yang sangat besar, serta banyaknya jumlah kata dalam perbendaharaan kata masyarakat Afrika semakin memperkuat asumsi bahwa pulau tersebut dulu dihuni bangsa Afro-Indonesia, yang merupakan cikal bakal penduduk Nusantara.

Dalam buku ini, pembaca akan menemukan berbagai hipotesis mengejutkan yang mungkin selama ini belum pernah terpikirkan sebelumnya. Karena tidak ada literatur yang dengan secara gamblang menulis bukti bahwa antara abad ke-5 dan ke-7, kapal Nusantara telah berhasil mendominasi pelayaran dagang di kawasan Asia hingga mampu menjelajah jauh sampai ujung Afrika.

Bahkan jika selama ini masyarakat banyak percaya bahwa peradaban bangsa Cina menjadi pusat peradaban dunia tempo dulu, fakta itu termentahkan setelah membaca buku ini. Meskipun tak dimungkiri jika peranan Cina juga cukup besar di Asia, namun pada abad V sampai VII masehi perdagangan bangsa Cina banyak tergantung pada jasa dan suplai produk para pelaut Nusantara, bukan sebaliknya seperti yang selama ini tertulis diberbagai literatur.

Buku ini menyajikan beragam data sejarah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas, bahkan kalangan sejarawan. Sehingga pembaca berpotensi akan banyak mengalami perubahan paradigma berpikir setelah membaca secara detail rangkaian fakta kehebatan peradaban Nusantara pada masa kuno yang pelayarannya mampu menyeberangi samudra hingga menemukan benua Afrika.

Judul Buku : Penjelajahan Bahari (Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika)
Penulis : Robert Dick-Read
Edisi : Juni 2008
Tebal : 378 halaman
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Peresensi : Erik Purnama Putra, Mahasiswa Psikologi UMM dan Aktivis Pers Koran Kampus Bestari

Sumber (Harian Bhirawa)

Bukti-Bukti Mutakhir Tentang Kehebatan Pelaut Nenek Moyang Indonesia jauh Sebelum Cheng Ho dan Columbus [Jejak Warisan Pelaut Nusantara di Afrika]




Papua Dalam Catatan Para Pelaut Spanyol

Hari Suroto – indosmarin.com

Jayapura – Ternyata bukan hanya Sumatera saja yang disebut-sebut sebagai pulau emas, oleh para pelaut barat, tetapi Papua pun disebut-sebut sebagai pulau emas. Sebut saja Ferdinand Magellan’s, pelaut Kerajaan Spanyol yang melakukan ekspedisi berlayar keliling dunia pada 1521 – 1522 dengan menggunakan kapal “Victoria” yang dinahkodai Kapten Juan Sebastian Del Cano.

Ikut dalam ekspedisi Magellan’s ini seorang penulis Italia bernama Antonio Pigafetta. Selama ekspedisi ini Pigafetta selalu menulis catatan perjalanan. Dari catatan harian Pigafetta diketahui bahwa pada 1521 kapal Victoria yang ditumpanginya sempat singgah di Kerajaan Tidore – Maluku Utara. Pigafetta juga menyebut kata Papua, namun Ia tidak menguraikan secara jelas “Papua” yang dimaksud dalam laporannya. Pigafetta dalam laporannya menjuluki pulau ini dengan julukan Isla de Oro, yang artinya Pulau Emas.

Pada 1529 Alvaro de Saavedra dalam pelayarannya dari Meksiko ke Maluku mencoba mencari dan menaklukan pulau yang disebut-sebut Isla de Oro oleh Pigafetta. Secara kebetulan, akibat hantaman angin kecang, kapal Alvaro de Saavedra pun terdampar di salah satu tempat pantai utara Biak. Alvaro de Saavedra dan anak buah kapalnya pun terpaksa tinggal di pulau kecil ini selama satu bulan, sembari mencari emas di pulau tersebut namun Ia sama sekali tidak menemukannya.

Pada 1537 Herman Griyalva berangkat dari Meksiko untuk mencari dan menaklukan daerah yang ditulis Pigafetta ini. Namun akibat pemberontakan anak buah kapalnya, Ia bersama beberapa anak buah kapal yang loyal padanya tewas. Hanya tujuh orang yang lolos kemudian ditawan penduduk setempat dan dibebaskan beberapa tahun kemudian, dengan cara diserahkan kepada Gubernur Portugal yang bertempat di Kerajaan Ternate.

Pada 20 Juni 1545 seorang Spanyol bernama Ynogo Ortiz de Retes dengan kapal “San Juan” berlayar dari Tidore menuju Panama. De Retes sempat mencapai Sarmi (Bier) yang terletak di muara Sungai Mamberamo. De Retes kemudian memberikan nama pulau Papua dengan nama Nueva Guinea dan kemudian mengklaimnya sebagai milik raja Spanyol. De Retes memberi nama Nueva Guinea atau Guinea Baru, karena penduduk Pulau Papua memiliki kulit hitam seperti penduduk di Pantai Guinea di Afrika.

Kemudian pada 1606, Torres pelaut berkebangsaan Spanyol lainnya dari arah timur Pulau Papua menelusuri pantai selatan Papua Barat dan mengklaim sejumlah tempat sebagai milik raja Spanyol. Perjalanan inilah yang pertama kali membuktikan bahwa Pulau Papua yang sebelumnya dikira bersatu dengan Australia ternyata ia terpisah dari Australia(*)

sumber foto: wikipedia.org